4 MODEL CARA PANDANG TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS
Bagaimana kita memandang difabel berbeda dari waktu ke waktu. Perubahan ini terjadi sebagai refleksi akan apa yang terjadi dan munculnya kesadaran baru sebagai upaya yang tak pernah henti untuk mewujudkan perilaku dan lingkungan sosial yang adil, setara dan bermartabat tanpa diskriminasi pada siapapun.
Ada 4 model cara pandang terhadap difabel yang berkembang dari waktu ke waktu.
- Amal. Apa yang orang rasakan kalau memandang difabel? Kasihan! Karena difabel dianggap tidak berdaya, tidak lengkap, tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa, hidupnya tergantung pada orang lain. Disabilitas adalah tragedi. Karena itu harus ditolong, disantuni. Mereka tidak ditanya apa yang diinginkan, tidak dianggap dan tidak diberi kesempatan karena sudah dianggap tak bisa berbuat apa-apa
- Medis. Menganggap difabel sebagai orang sakit dan tidak normal, karena itu mereka harus diobati dan ‘dinormalkan’. Mereka ditempatkan di panti untuk dirawat khusus dan di rumah sakit jiwa untuk disembuhkan. Organ tubuhnya perlu diperbaiki atau diberi alat bantu untuk berfungsi seperti orang normal. Model ini tidak menghargai manusia yang berbeda-beda dan tidak semuanya perlu diperbaiki.
- Sosial. Jika model amal dan medis melihat masalahnya berada pada diri difabel, model sosial sebaliknya. Ia memandang persoalannya bukan pada difabel tetapi pada lingkungan dan sikap masyarakat yang menghambat. Karena itu, pendekatan ini fokus mengubah lingkungannya. Kalau lingkungan dan sikap masyarakat berubah maka semua orang dapat berpartisipasi dan berinteraksi satu sama lain secara setara.
- Hak. Semua orang, termasuk difabel, memiliki hak yang sama tanpa kecuali. Karena itu, masyarakat dan terutama pemerintah (negara) wajib memastikan inklusi, dimana semua warga negara termasuk difabel berpartisipasi, memiliki akses terhadap hak-haknya dan mendapat manfaat dari pembangunan yang sama.
Tidak ada yang salah dengan semua model di atas. Juga tidak ada model yang cukup dan sempurna untuk semua situasi. Oleh karena itu, cara terbaik yang perlu dilakukan adalah mengkombinasikan penerapan model-model di atas sesuai situasi dan kebutuhan setiap tempat agar pendekatan yang dilakukan menyeluruh (holistik).***.