Mengapa ada yang berpikir untuk apa melibatkan difabel dalam pertemuan desa karena mereka tidak tahu apa-apa? Mengapa orang tidak memilih difabel untuk posisi atau jabatan tertentu? Mengapa masyarakat menganggap wajar kalau difabel diberi upah yang lebih rendah?
Ableism adalah cara berpikir yang mendiskriminasikan atau merendahkan orang berdasarkan kemampuan fisik atau mental mereka dengan asumsi bahwa difabel lebih rendah kemampuannya dibandingkan non difabel. Ableism menempatkan non difabel sebagai orang yang “berbadan dan berjiwa sehat”, sehingga memiliki kemampuan lebih dari difabel yang tidak “berbadan dan berjiwa sehat”.
Ableism menetapkan kemampuan orang diukur dari kelengkapan atau kesesuaian anggota tubuhnya menurut ukuran medis, kelayakan dan kepantasannya sesuai norma sosial (difabel kerap dianggap akibat perbuatan dosa, hukuman atau kutukan), dan kemampuan bekerja menurut cara dan standar umum.
Ablesism menganggap difabel sebagai orang sakit yang harus disembuhkan, dan orang yang memiliki organ rusak/tidak lengkap, yang harus diperbaiki atau diperlengkapi agar sama atau sekurang-kurangnya menyerupai orang-orang kebanyakan. Ableism tak menganggap difabel sebagai keberagaman.
Mengingat difabel dianggap tidak lengkap dan tidak lagi optimal secara biologis maka dari cara pandang ini, difabel dianggap lebih rendah kompetensi dan produktivitasnya (kuantitas dan kualitas) dibandingkan dengan non difabel.
Dari sudut pandang norma sosial/agama, difabel dipandang sebagai ‘orang bermasalah” karena dipercayai disabilitas mereka adalah akibat dari perbuatan dosa, hukuman dan kutukan. Karena itu disabilitasnya dianggap sebagai aib, sehingga mereka dikucilkan, disembunyikan,dan rentan mengalami berbagai perlakuan buruk.
Pandangan bahwa difabel tidak mampu membawa implikasi pada sulit mendapat kesempatan berpartisipasi, mendapat tugas dan berperan, dipilih atau diangkat untuk urusan, pekerjaan dan jabatan tertentu, Juga menciptakan sikap protektif yang berlebihan sehingga mengurangi otonomi dan kemandiriannya.
Cara berpikir ableism juga menyebabkan difabel terlempar dari ukuran atau standar tertentu khususnya yang mengagungkan penampilan fisik, misalnya kecantikan dan model.
Perilaku ableism mengakibatkan difabel mengalami diskriminasi, ketidaksetaraan akses terhadap peluang dan sumber daya, merasa diasingkan atau tidak diterima, terhambat berpartisipasi, pengucilan, merasa tidak dihargai atau diremehkan, mobilitas terhambat, marginalisasi, sulit memperoleh kesempatan belajar dan pengembangan keterampilan, karir tidak berkembang, kualitas perawatan kesehatan berkurang, rentan mengalami kekerasan dan perlakuan buruk lainnya.
Mengatasi ableism membutuhkan usaha bersama untuk meningkatkan kesadaran, mengubah kebijakan publik, dan mendorong sikap yang lebih inklusif dan menghormati keragaman kemampuan manusia, terlepas dari kemampuan fisik dan mental mereka. Ini termasuk pendidikan tentang disabilitas, memperjuangkan hak-hak individu dengan disabilitas, dan menciptakan lingkungan yang aksesibel dan ramah untuk semua orang.***